Keceriaan dan Perjuangan Mengikuti AFDI [1]

Setelah kemarin [kemarin, kemarinnya lagi ] saya berbagi cerita ketika acara kick off Asosiasi Forensik Digital Indonesia dilakukan, hari ini saya mau berbagi pengalaman yang penuh keceriaan dan penuh perjuangan untuk dapat mengikuti kick off AFDI ini. Kenapa keceriaan dulu baru perjuangan? Karna perjuangan berat yang dilakukan tertutupi oleh keceriaan yang didapatkan.

Tanggal 16 November 2015, hari senin pukul 18.30, ditetapkan sebagai tempat untuk berkumpul para pejuang yang akan berangkat ke jakarta. Tempat berkumpul di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Karena memang perjalanan direncanakan akan menggunakan kereta api [*baca: pengalaman pertama saya naik kereta api , makanya gambar awalnya kereta api]. Pejuang yang akan berangkat berjumlah 9 orang, [seharusnya 10, namun Mas Nuril sedang terbaring sakit saat itu, cepat sembuh mas Nuril]. Setelah diberikan pengarahan oleh Mas Dedy, pukul 19.15 akhirnya kami semua sudah masuk ke kereta api dan kami dapat di gerbong 3 dan kereta yang bernama Joko Tingkir. Dan apa yang saya rasakan? Deg-degan. Karena ini pengalaman saya yang pertama kali naik kereta api. Maklumlah, di Pekanbaru yang ada kereta api untuk rute keliling halaman toko orang.
*Tim Pejuang Kick Off AFDI  
[dari berdiri kanan : Mustika, Abdul Kohar, Soni*, Ikhwan, Ambo, En En, Ros, Nora. Jongkok : saya dan mas Haris]


Tak berapa lama, kereta pun meluncur. Tuut Tuuttt gujess gujess, saya pikir akan ada bunyi itu seperti di film-film, ternyata tidak . Saya dapat tempat duduk bersama Pak Ikhwan dan didepan saya Mas Haris. Seharusnya di depan saya mas Haris dan mas Nuril, namun mas Nuril sakit. Yang saya pikirkan pertama kali, ini bisa semaput kaki tidak bisa diselonjorkan untuk tidur  . Kereta ekonomi mempunyai kursi 2-2 dan saling berhadapan. 2 dikiri, 2 dikanan, dan saling berhadapan. Plus AC. Untuk tempat duduk nya sih lumayan empuk lah. Namun ya gitu, siap-siap pinggang dan kaki berjuang ekstra. Setelah lebih kurang 30 menit kereta api berjalan, datang petugas kereta, "yang bantal, yang bantal, yang bantal". Eh ada sewa bantal, saya pun menyewa bantal nya, lumayan untuk sandaran tidur, ketimbang sandaran sama pak Ikhwan nanti. Hahaha. Tidak lama kemudian datang petugas berpakaian lengkap dan pak polisi [weh serem tampangnya, saya kira mau razia narkoba ] datang meminta tiket untuk dibolongin. [Itu kalau ada yang tidak bawa tiket ditahan pak polisi kali ya].
*Pose duduk di kereta api. Mas Haris nya serius bener.

Satu jam kereta berjalan, dan saya mulai merasakan goncangan semakin kuat, oh ternyata seperti ini naik kereta "ekonomi" Hahaha. Karena ternyata teman-teman yang lain bilang, kalau naik yang eksekutif tidak akan terasa goncangannya, dan kata mas Haris, siap-siap ketika turun nanti gempa bumi. Tidak lama kemudian datang lagi petugas sambil berteriak "yang makan, yang makan, nasi goreng, nasi goreng, nasi rendang". Eh ada yang jual makanan, berhubung perut lapar, saya pun membeli nasi goreng tersebut, namun woow, harganya lumayan mahal. Rp 30.000, satu kotak nasi gorengnya. Tapi ya anggap makan nasi goreng di cafe, dannasi gorengnya ternyata cukup lengkap, ada ayam nya, telur, kerupuk, timun. Setelah dicicipi, ternyata lezaaaat [saking lezatnya, lupa mau foto].

Setelah makan, lanjut diskusi-diskusi penuh keceriaan bersama senior sampai pukul 22.00, begitu lewat pukul 22.00, satu persatu mulai pergi ke alam mimpi, dan akhirnya tidak lama kemudian suasana keceriaan tadi mulai berubah mistis [baca: sepi]. Untuk mengusir suasana mistis, saya menonton film di tablet saya yang memang sudah saya persiapkan dari rumah. Hingga pukul 23.30, saya pun juga terbawa ke alam mimpi. Pukul 01.00, saya terbangun karena pose tidur saya tidak nyaman, dan pinggang pegal-pegal [duh baru juga berangkat]. Ketika terbangun, lah kok saya sendirian, pak Ikhwan dan mas Haris entah kemana. Celingak sana, celinguk sini, ternyata mereka ada di luar gerbong dekat wc, ketika saya datangi, kata mereka mau lurusin kaki. Eh bener juga ya lurusin juga deh. Tidak lama berdiri, akhirnya saya kembali tertidur.

Akhirnya pukul 04.00, kereta sampai di tujuan, yaitu di stasiun senen. Kami semua turun, dan berhubung sudah waktu shubuh, maka sholat shubuh dulu di mushola. Dan ternyata bener efek yang dibilang mas Haris, ketika sholat saya merasa seperti gempa bumi, goyang sana goyang sini . Tapi harus kuat [walaupun pinggang sakit]. Setelah sholat, kami keluar dari stasiun [wah pertama kali ini masuk stasiun bersejarah seperti ini, sayang lupa mengabadikan momen karena terlalu capek].

Setelah keluar stasiun senen, kami mencari halte bus way dan pergi menuju mesjid istiqlal. Untuk mandi . Karena hasil diskusi kelompok, tempat yang paling memungkinkan untuk mandi dan dekat dari acara ya disitu. Akhirnya setelah sampai di halte, isi kartu tiket [wah baru tau ini saya kalau bus way bayarnya tidak pakai cash, tapi pakai kartu seperti bca flazz] dan menunggu bus way datang. Pengalaman menarik ketika menunggu yaitu, saya melihat anak SMA yang sudah ikut menunggu bus, padahal waktu itu masih pukul 05.00 pagi, teringat saya, ketika sekolah dulu jam 05.00 saya belum bangun . Untung saya tidak tinggal di Jakarta. Hahahaha.

Akhirnya bus pun datang, saya bergegas masuk ke bus dan yang buat saya malu adalaaaaahhhh. Saya main langsung duduk di dekat supir [karena saya memang suka duduk di depan, baik itu ketika kuliah ataupun apapun, pokoknya suka di depan, naik pesawat kalau bisa duduk sebelah pak pilot ]. Langsung seorang ibu-ibu menegur saya, "Mas ini area khusus wanita, yang laki-laki dibelakang mas". Alamakk. Malu sangat, dulu memang sering baca berita kalau di bus way ada area khusus wanita, tapi tidak tau kalau area wanita itu di depan. Aduh, maav ya bu, saya katrok. Dan saya pun kena ketawain sama teman-teman di belakang.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 30 menit [Jakarta belum masuk waktu macet], akhirnya kami tiba di Masjid Istiqlal [ini pertama kali juga masuk ke Istiqlal]. Namun sayang beribu sayang, sepertinya tadi malam habis ada acara di perkarangan masjid, sehingga begitu banyak sampah ketika kami tiba. Malu sebenarnya sebagai seorang muslim melihat rumah ibadah bergelimangan sampah seperti ini. Heran kok manusia nya seenaknya dewe buang sampah di rumah Allah . Tapi ya semua sudah terjadi, semoga masih banyak manusia yang sadar akan kebersihan.

Berjalan-jalan sebentar di sekitar pekarangan masjid, jam 06.00, kami pun memutuskan untuk mulai mandi. Begitu sampai di kamar mandi, kaget setengah mati. Yang mau antre mandi ada lebih kurang 70 orang. Dari ujung barat sampai ujung timur, penuuh. Buju buseettt, macam barak pengungsian yang mau mandi [sepertinya ada acara anak-anak SMA, karena waktu itu hampir 2/3 yang antri anak-anak SMA]. Setelah berdiskusi, akhirnya saya dan pak Ambu memutuskan untuk berpegang teguh pada kebersihan [pak Ikhwan memutuskan tidak mandi karena sudah patah semangat lihat antrian, hahaha, peace pak Ikhwan]. Harus mandi dan antreeeee.
Antreeee booooo

Kesabaran memang membuahkan hasil, setelah mengantri selama 1 jam, akhirnya dapat giliran untuk mandi, cuma kamar mandi nya serem, bak nya kecil, kakusnya dari besi. Macam di penjara . Semoga negara mau merenovasi kamar mandinya agar lebih modern. Karena masih rame yang mau antre mandi, akhirnya asal kena air aja deh, yang penting udah bau sabun.

Setelah proses bersih-bersih [baca: mandi] selesai dilakukan, kami pun duduk sebentar menunggu teman-teman yang lain selesai, dan tidak lupa, fotoooooooo.
*Sudah ganteng , udah lama tidak berpakaian model begini, semenjak S2 baru kali ini pakai setelan rapi seperti ini.

Setelah semuanya selesai, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika. Berhubung waktu sudah mepet [acara pukul 08.00, dan saat itu sudah menunjukkan pukul 07.30], sesuai kesepakatan naik taxi saja karena dekat dan mau cepat. Setelah menunggu beberapa saat dan sudah entah berapa taxi yang dipanggil tidak mau berhenti [ini memang tidak boleh berhenti atau bagaimana entahlah, yang jelas taxi nya banyak yang sombong], akhirnya dapat juga taxi nya dan pukul 07.45 kami semua sampai di tempat acara tepat waktu dan sudah ganteng untuk mengikuti acara. Setelah ini akan ada postingan lanjutan setelah selesai acara dan proses perjalanan pulang.
*di tempat acara


Yogyakarta, 20 November 2015
Previous
Next Post »